Admin
Jumat, 17 Juli 2026
KAJEN, PEKALONGAN – Dalam upaya melestarikan warisan leluhur di kalangan generasi muda, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Pekalongan menggelar Kegiatan Pembinaan dan Pengembangan Kompetensi Bagi Ormas di Kabupaten Pekalongan Tahun 2026. Mengusung tema "Berkain dan Berkebaya itu Seru: Mengenal, Melestarikan, dan Bergaya dengan Identitas Budaya", acara ini dilaksanakan di Aula SMA Negeri 1 Kajen, Jumat (17/7/2026)
Turut hadir dalam acara tersebut Sekretaris Bakesbangpol Kab. Pekalongan Sri Lestari, ., Penasehat DPD KKI Provinsi Jateng Dra. Paula Wiwiek Purbziwi, Ketua DPC KKI Kabupaten Pekalongan Sri Rohayatin, ., MH., Kepala Sekolah SMAN 1 Kajen Ircham Junaidi, . M.P.d, serta pengurus KKI Kab. Pekalongan dan Kota Pekalongan.
Saat membuka acara secara resmi, Sekretaris Bakesbangpol Kabupaten Pekalongan, Sri Lestari, ., menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepada KKI Kabupaten Pekalongan dan KKI Provinsi Jawa Tengah yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu serta menumbuhkan rasa cinta tanah air. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah memfasilitasi tempat pelaksanaan kegiatan.
"Para narasumber hari ini akan memberikan ilmu terkait kain kebaya kepada kaum Gen Z. Ini adalah aset Indonesia yang penting untuk diperkenalkan sebagai wawasan dalam berpakaian. Harapan kami, para siswa dapat berpakaian dengan sopan dan anggun, selaras dengan identitas Kabupaten Pekalongan sebagai Kota Santri," ujar Sri Lestari. Ia juga berpesan kepada para siswa agar tidak melupakan sejarah (Jasmerah) serta mengikuti jalannya materi dengan aktif.
Memasuki sesi pemaparan materi, Ketua DPD KKI Kabupaten Pekalongan, Sri Rohayatin, ., MH., membedah sejarah panjang kebaya. Kata kebaya berasal dari bahasa Arab "abaya" yang berarti pakaian labuh. Mulai dikenal sejak abad ke-15 di era Kerajaan Majapahit bagi kalangan bangsawan, busana ini kemudian berasimilasi seiring masuknya Islam dan pengaruh perdagangan kolonial.
"Ketika Islam masuk, terjadi penyesuaian untuk menutup area dada dengan menambahkan luaran tipis berlengan, yang menjadi cikal bakal kebaya yang kita kenal sekarang," jelas Sri Rohayatin. Komunitas Tionghoa ikut mempopulerkan Kebaya Peranakan, sementara bangsa Eropa membawa pengaruh melalui penggunaan bahan brokat dan renda halus.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Hari Kebaya Nasional kini diperingati setiap tanggal 24 Juli berdasarkan Keppres Nomor 19 Tahun 2023, bertepatan dengan momen bersejarah Kongres Wanita Indonesia (Kowani) X yang dihadiri Presiden Soekarno. Sri Rohayatin mengajak Gen Z untuk mematahkan stigma bahwa kebaya itu kaku atau kuno melalui tren mix & match kasual kekinian.
"Evolusi kebaya saat ini sangat fleksibel. Gen Z bisa memadukan kebaya dengan jeans untuk hangout ke mal, menggunakan sneakers untuk tampilan santai, atau mengombinasikan kebaya kutubaru dengan outerwear modern. Budaya kita adalah identitas kita, mari tunjukkan kebanggaan berkain di media sosial," tambahnya.
Sementara itu, Penasehat DPC KKI Provinsi Jateng, Dra. Paula Wiwiek Purbziwi, memperkaya wawasan peserta dengan mengulas keunikan kain tradisional lokal, khususnya Batik Pekalongan. Berbeda dengan daerah lain, Batik Pekalongan terkenal dengan perpaduan warnanya yang cerah dan ramai, dengan goresan motif yang didominasi oleh ragam flora dan fauna.
Ia menyebutkan setidaknya ada 5 motif khas Batik Pekalongan yang sangat populer dan sarat makna, yaitu: motif Jlamprang, motif semen, motif liong, motif sawat, motif tujuh rupa.
Melalui edukasi ini, KKI Jawa Tengah berharap dapat terus berkontribusi melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas dan tangguh, tetapi juga memiliki keagungan akhlak serta kepedulian tinggi terhadap kelestarian budaya bangsa di tengah modernisasi.
Rangkaian kegiatan pembinaan ini berjalan dengan tertib, lancar, dan penuh antusiasme dari para siswa hingga akhir acara. (RF)