Admin
Kamis, 2 Juli 2026
KAJEN– Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar kegiatan Pendidikan Politik dan Peningkatan Demokrasi di Gedung Bumdes Wiroyudho, Desa Warulor, Kecamatan Wiradesa. Mengangkat tema "Agama dan Negara dalam Pandangan Pendiri Bangsa", acara yang berlangsung pada Selasa malam (30/6/2026) ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Bakesbangpol Argo Yudha Ismoyo, S.STP., ., Wakil Ketua DPRD H. Sumar Rosul, ., ., Anggota Komisioner Bawaslu Teguh Setiawan, ., serta Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) Hairus Shaleh, MA.
Dalam pemaparan materi pertama, Dosen UIN Gusdur, Hairus Shaleh, MA., mengulas tentang "Nasionalisme menurut Pandangan Bung Karno". Ia menjelaskan bahwa perdebatan para pendiri bangsa terdahulu banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang bersumber pada moral, keadilan, dan persatuan.
"Jalan tengah yang ditemukan oleh para pendiri bangsa, terutama melalui pemikiran Bung Karno, adalah Pancasila. Ini adalah titik temu yang merangkum berbagai paham untuk melawan penjajahan," ujar Hairus.
Ia juga mengingatkan pentingnya meninggalkan egoisme keagamaan demi menjaga keutuhan NKRI serta menghindari politisasi agama dan isu SARA. Dalam konteks pendidikan politik, Hairus mengajak masyarakat untuk mempraktikkan politik cerdas, seperti berani menolak money politics (politik uang) dan aktif mengawasi kebijakan pemerintah.
Sementara itu, Komisioner Bawaslu Teguh Setiawan, ., selaku pemateri kedua, menekankan bahwa keberagaman budaya, suku, ras, dan agama di Indonesia merupakan kekayaan sekaligus kekuatan bangsa. Ia menyebut Bung Karno selalu mengutamakan persatuan sebagai modal utama untuk mencapai cita-cita bangsa yang tertuang dalam Alinea ke-4 UUD 1945.
"Perbedaan yang ada di NKRI ini adalah keberagaman yang saling menumbuhkan dan menguatkan," tutur Teguh.
Pada sesi terakhir, Wakil Ketua DPRD H. Sumar Rosul, ., ., membedakan antara politik sebagai strategi dan partai politik sebagai wadahnya. Mengenang pesan moral Bung Karno, Sumar mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga identitas keindonesiaannya di tengah keberagaman budaya.
"Pandangan Bung Karno jelas, mengutamakan kebangsaan dengan prinsip ketuhanan, di mana agama tidak dijadikan alat politik. Politik dan agama tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus berjalan selaras dan seimbang," jelas Sumar.
Lebih lanjut, Sumar Rosul juga memberikan kabar baik bahwa saat ini sedang diproses pembuatan Peraturan Daerah (Perda) tentang Moderasi Beragama sebagai payung hukum kehidupan beragama yang harmonis. Di akhir penyampaiannya, ia memotivasi para mahasiswa yang hadir untuk aktif berorganisasi sebagai modal penting sebelum memasuki dunia kerja.
(RF)