KAJEN, PEKALONGAN – Dalam upaya melestarikan warisan leluhur di kalangan generasi muda, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Pekalongan menggelar Kegiatan Pembinaan dan Pengembangan Kompetensi Bagi Ormas di Kabupaten Pekalongan Tahun 2026. Mengusung tema "Berkain dan Berkebaya itu Seru: Mengenal, Melestarikan, dan Bergaya dengan Identitas Budaya", acara ini dilaksanakan di Aula SMA Negeri 1 Kajen, Jumat (17/7/2026)
Turut hadir dalam acara tersebut Sekretaris Bakesbangpol Kab. Pekalongan Sri Lestari,
Jumat, 17 Juli 2026
Rabu, 15 April 2026
Selasa, 31 Januari 2023
Rabu, 13 Juli 2022
Selasa, 12 Juli 2022
Pihak Pengadu dapat menyampaikan pengaduan terkait penyelenggaraan pelayanan yang diberikan secara langsung dan atau secara tidak langsung pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Pekalongan.
Pengaduan dapat dilakukan melalui :
1. Tatap muka langsung kepada pejabat pengelola pengaduan dan tim penjawab aduan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Pekalongan;
2. Tertulis disampaikan ke kontak pengaduan yang disediakan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Pekalongan;
3. Dapat menyampaikan pengaduan melalui :
a. Telepon/Fax : 0285 - 381474
Saat membuka acara secara resmi, Sekretaris Bakesbangpol Kabupaten Pekalongan, Sri Lestari, ., menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepada KKI Kabupaten Pekalongan dan KKI Provinsi Jawa Tengah yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu serta menumbuhkan rasa cinta tanah air. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah memfasilitasi tempat pelaksanaan kegiatan.
"Para narasumber hari ini akan memberikan ilmu terkait kain kebaya kepada kaum Gen Z. Ini adalah aset Indonesia yang penting untuk diperkenalkan sebagai wawasan dalam berpakaian. Harapan kami, para siswa dapat berpakaian dengan sopan dan anggun, selaras dengan identitas Kabupaten Pekalongan sebagai Kota Santri," ujar Sri Lestari. Ia juga berpesan kepada para siswa agar tidak melupakan sejarah (Jasmerah) serta mengikuti jalannya materi dengan aktif.
Memasuki sesi pemaparan materi, Ketua DPD KKI Kabupaten Pekalongan, Sri Rohayatin, ., MH., membedah sejarah panjang kebaya. Kata kebaya berasal dari bahasa Arab "abaya" yang berarti pakaian labuh. Mulai dikenal sejak abad ke-15 di era Kerajaan Majapahit bagi kalangan bangsawan, busana ini kemudian berasimilasi seiring masuknya Islam dan pengaruh perdagangan kolonial.
"Ketika Islam masuk, terjadi penyesuaian untuk menutup area dada dengan menambahkan luaran tipis berlengan, yang menjadi cikal bakal kebaya yang kita kenal sekarang," jelas Sri Rohayatin. Komunitas Tionghoa ikut mempopulerkan Kebaya Peranakan, sementara bangsa Eropa membawa pengaruh melalui penggunaan bahan brokat dan renda halus.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Hari Kebaya Nasional kini diperingati setiap tanggal 24 Juli berdasarkan Keppres Nomor 19 Tahun 2023, bertepatan dengan momen bersejarah Kongres Wanita Indonesia (Kowani) X yang dihadiri Presiden Soekarno. Sri Rohayatin mengajak Gen Z untuk mematahkan stigma bahwa kebaya itu kaku atau kuno melalui tren mix & match kasual kekinian.
"Evolusi kebaya saat ini sangat fleksibel. Gen Z bisa memadukan kebaya dengan jeans untuk hangout ke mal, menggunakan sneakers untuk tampilan santai, atau mengombinasikan kebaya kutubaru dengan outerwear modern. Budaya kita adalah identitas kita, mari tunjukkan kebanggaan berkain di media sosial," tambahnya.
Sementara itu, Penasehat DPC KKI Provinsi Jateng, Dra. Paula Wiwiek Purbziwi, memperkaya wawasan peserta dengan mengulas keunikan kain tradisional lokal, khususnya Batik Pekalongan. Berbeda dengan daerah lain, Batik Pekalongan terkenal dengan perpaduan warnanya yang cerah dan ramai, dengan goresan motif yang didominasi oleh ragam flora dan fauna.
Ia menyebutkan setidaknya ada 5 motif khas Batik Pekalongan yang sangat populer dan sarat makna, yaitu: motif Jlamprang, motif semen, motif liong, motif sawat, motif tujuh rupa.
Melalui edukasi ini, KKI Jawa Tengah berharap dapat terus berkontribusi melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas dan tangguh, tetapi juga memiliki keagungan akhlak serta kepedulian tinggi terhadap kelestarian budaya bangsa di tengah modernisasi.
Rangkaian kegiatan pembinaan ini berjalan dengan tertib, lancar, dan penuh antusiasme dari para siswa hingga akhir acara. (RF)
KAJEN– Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar kegiatan Pendidikan Politik dan Peningkatan Demokrasi di Gedung Bumdes Wiroyudho, Desa Warulor, Kecamatan Wiradesa. Mengangkat tema "Agama dan Negara dalam Pandangan Pendiri Bangsa", acara yang berlangsung pada Selasa malam (30/6/2026) ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Bakesbangpol Argo Yudha Ismoyo, S.STP., ., Wakil Ketua DPRD H. Sumar Rosul, ., ., Anggota Komisioner Bawaslu Teguh Setiawan, ., serta Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) Hairus Shaleh, MA.
Dalam pemaparan materi pertama, Dosen UIN Gusdur, Hairus Shaleh, MA., mengulas tentang "Nasionalisme menurut Pandangan Bung Karno". Ia menjelaskan bahwa perdebatan para pendiri bangsa terdahulu banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang bersumber pada moral, keadilan, dan persatuan.
"Jalan tengah yang ditemukan oleh para pendiri bangsa, terutama melalui pemikiran Bung Karno, adalah Pancasila. Ini adalah titik temu yang merangkum berbagai paham untuk melawan penjajahan," ujar Hairus.
Ia juga mengingatkan pentingnya meninggalkan egoisme keagamaan demi menjaga keutuhan NKRI serta menghindari politisasi agama dan isu SARA. Dalam konteks pendidikan politik, Hairus mengajak masyarakat untuk mempraktikkan politik cerdas, seperti berani menolak money politics (politik uang) dan aktif mengawasi kebijakan pemerintah.
Sementara itu, Komisioner Bawaslu Teguh Setiawan, ., selaku pemateri kedua, menekankan bahwa keberagaman budaya, suku, ras, dan agama di Indonesia merupakan kekayaan sekaligus kekuatan bangsa. Ia menyebut Bung Karno selalu mengutamakan persatuan sebagai modal utama untuk mencapai cita-cita bangsa yang tertuang dalam Alinea ke-4 UUD 1945.
"Perbedaan yang ada di NKRI ini adalah keberagaman yang saling menumbuhkan dan menguatkan," tutur Teguh.
Pada sesi terakhir, Wakil Ketua DPRD H. Sumar Rosul, .,
"Pandangan Bung Karno jelas, mengutamakan kebangsaan dengan prinsip ketuhanan, di mana agama tidak dijadikan alat politik. Politik dan agama tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus berjalan selaras dan seimbang," jelas Sumar.
Lebih lanjut, Sumar Rosul juga memberikan kabar baik bahwa saat ini sedang diproses pembuatan Peraturan Daerah (Perda) tentang Moderasi Beragama sebagai payung hukum kehidupan beragama yang harmonis. Di akhir penyampaiannya, ia memotivasi para mahasiswa yang hadir untuk aktif berorganisasi sebagai modal penting sebelum memasuki dunia kerja.
(RF)
Kamis, 2 Juli 2026
Rabu, 15 April 2026
Senin, 20 Februari 2023
d. Facebook : Kesbangpol Kab Pkl
SP4N Lapor
Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional (SP4N) – Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!) adalah layanan penyampaian semua aspirasi dan pengaduan masyarakat Indonesia. SP4N - LAPOR! telah terhubung dengan 34 Kementerian, 96 Lembaga, dan 493 Pemerintah daerah di Indonesia.
Layanan SP4N - LAPOR! selain untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik secara sederhana, cepat, tepat dan terkoordinasi dengan baik, juga dibentuk untuk merealisasikan kebijakan “no wrong door policy” yang menjamin hak masyarakat agar pengaduan dari manapun dan jenis apapun akan disalurkan kepada penyelenggara pelayanan publik yang berwenang menanganinya. Adapun Target Penggunaya itu seluruh Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah, Masyarakat.
LaporGub!
LaporGub adalah Portal Laporan Pengaduan Online Provinsi Jawa Tengah Merupakan wujud nyata dari keinginan pemerintah untuk mengakomodasi aspirasi warga masyarakat se-Jawa Tengah.
LAPOR BUP
Kunjungi Layanan ini (Klik pada gambar) untuk mendapatkan Layanan LAPOR BUPATI
Berikut adalah Media Pelaporan Aduan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
5. Telephone / Fax : 0285 381000
6. Alamat surat : Jl. Alun-alun Utara No.1 Kajen
Selasa, 28 Juni 2022